Saat aku memutuskan untuk memilih setia disaat
hubungan sudah mulai renggang dan komunikasipun jarang terjalin dalam hubungan
hati ku teruji begitu kuat. Menegarkan hati disaat aku berusaha untuk
mempertahankan hubungan ini sendiri sedang dia seperti memungkiri jika hubungan
ini akan mampu bertahan. Begitu lelah hati ini memperjuangkan hal yang
seharusnya diperjuangkan bersama tapi justru seorang diri. Karena aku
berkeyakinan hubungan ini masih mampu diperbaiki. Meski sadar ku lelah aku
tetap bersikeras untuk berdiri dan membangun kembali hubungan yang hampir roboh
ini. Ya mungkin aku terlihat bodoh memang. Entah aku terlalu cinta atau aku
teringat akan perjuangan kami membangun hubungan ini. Meski dia kini entah
masih memperdulikan hubungan ini atau tidak. Banyak memang cinta yang
menghampiri memberi uluran tangan namun hati ini masih menutup diri untuk yang
lain karna masih terikat cinta yang lama. Berbulan bulan aku mencoba setia dan
terus setia tanpa memperdulikan bahwa hatiku merasa tersakiti. Seharusnya jika
jarak yang menjadi hubungan berantakan mengapa tak dari awal cinta kita
dihindari untuk menyatukan hati tapi justru kita bersikeras untuk menyatukan
dan menganggap jarak ini justru melatih kesetian dan kita lebih mampu
menghargai waktu. Tapi apa yang terjadi kini, jarak seakan menjadi musuh yang
menghalangi kita. Jarakpun kembali tak berpihak pada hubungan ini lagi. Memang
benar 15% yang namanya “jauh dimata dekat dihati” dan yang 95% nya “dekat
dimata dekat dihati”.
Mungkin aku berharap suatu nanti perjuangan ini akan
kau sadari dan melihat lagi ada aku disini yang menanti. Ya ternyata memang
benar dikemudian hari kau sadar dan mempertahankanku untuk tetap menjadi
kekasih hatimu. Hubungan berjalan lancar dan kembali mengukir cerita yang indah
dan melukis senyuman meski kita tak mampu saling berpandangan. Aku semakin
percaya jika kamu benar pilihan hati. Akan kupertahankan kau begitu katamu. Aku
genggam dan kusimpan dalam hati penrnyataanmu ini tanpa kusadari apakah suatu
nanti akan tetap begini atau hanya saat ini.
Dan kinipun cerita hanya sebatas cerita dan kenangan
pun hanya tinggal kenangan saja. Entah seperti apa tepatnya hati ini yang jelas
seperti gelas terjatuh dan berhamburan yang mungkin akan sulit bahkan tak
mungkin lagi untuk disatukan
0 komentar:
Posting Komentar